Makna Ungkapan Terimakasih dalam Masyarakat Jepang

Dunia ini tidak akan terasa indah jika tanpa ada hadirnya kebaikan dari para manusia. Wujud kebaikan yang telah dilakukan dari orang satu ke orang yang lain, entah itu didasari dengan tujuan tertentu atau hanya dengan keikhlasan semata akan memunculkan uangkapan terimakasih sebagai wujud rasa terimakasih atas kebaikan yang diberikan tersebut. Di manapun kita tinggal, dimanapun kita hidup dimanapun kita hidup, ungkapan terimakasih tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Jika di Indonesia kita bisa menjumpai ungkapan terimakasih dalam beragam ungkapan yang dipengaruhi dialek misalnya “terimakasih”, “matursuwun”,

“haturnuwun” dan lain sebagainya . Selain itu muncul juga ungkapan terimakasih yang mendapatkan pengaruh dari pergaulan sosial masyarakatnya misalnya ungkapan “trims”, bahkan yang sedang populer pada anak-anak muda sekarang ini adalah bahasa alay yang mengungkapkan terimakasih dengan ungkapan “mukucih”.
Bagaimanapun juga bentuk ungkapannya, tapi pada intinya semua itu bertujuan untuk mengekspresikan rasa terimakasih dari wujud kebaikan yang telah diterima dari orang lain. Sama halnya di Jepang, uangkapan terimakasih pun beragam. Ungkapan terimakasih dalam masyarakat Jepang bisa digolongkan dalam salah satu bentuk persalaman atau 挨拶 ‘aisatsu’. Sehingga pernah dijumpai sebuah kalimat “Atatakai kokoro wa aisatsu kara” yang berararti 'hati yang hangat bermula dari salam'. Ini mengandung arti bahwa hangat tidaknya seseorang dalam kehidupan ini berawal dari ada tidaknya niat seseorang itu untuk mengucapkan kata-kata salam. Hati yang hangat akan secara otomatis berpengaruh dengan sikapnya yang hangat, ramah senantiasa memberikan kedamaian pada setiap orang yang ada di sekitarnya. Sedangkan terimakasih merupakan bagian dari salam tersebut, sehingga oarang yang pandai mengungkapkan terimakasih sesuai dengan kondisi yang ada dapat dinilai sebagai orang yang sangat baik dalam menciptakan hubungan sosial dalam masyarakat.

Pengungkapan rasa terimakasih melalui ucapan merupakan etika dasar dalam masyarakat Jepang. Terlihat jelas dengan praktek kesehariannya yang dapat kita amati bahwa mereka sangat bersungguh-sunggu dalam menyampaiakn rasa terimakasih kepada seseorang. Hal ini bisa nampak pada saat berterimakasih, mereka sering melakukan gerakan membungkukkan badan yang tidak hanya sekali namun berkali-kali. Budaya membungkukkan badan seperti ini disebut dengan budaya ojigi.
Ada beberapa macam ungkapan terimakasi yang sering digunakan dalam keseharian masyrakat Jepang yang diurutkan dari tingkat hormat yang paling tinggi, antara lain:

  • 感謝を申し上げます 'kansha wo moushi agemasu' . Ungkapan terimakasih ini memiliki tingkat keformalan dan tingkat kesopanan yang tinggi. Seringkali digunakan misalnya pengungkapan rasa terimakasih dari seorang mahasiswa kepada dosen pembimbingnya
  • どうも ありがとうございます'doumo arigatou gozaimasu'. Ungkapan terimakasih ini bisa diartikan terimakasih banyak dengan penambahan kata どうも ‘doumo’ didepan kata ありがとうございます ‘arigatou gozaimasu’. ‘Arigatou gozaimasu’ bisa diucapkan kepada atasan yang kedengaran lebih sopan bila ditambahkan dengan ‘doumo’. Kebanyakan ungkapan ini digunakan saat seseorang akan menerima sebuah kebaikan dari orang lain. Ada juga yang menggunakan ungkapan どうも ありがとうございました ‘doumo arigatou gozaimashita’. Ungkapan ini disampaikan saat seseorang sudah menerima sebuah kebaikan dari orang lain. Seseorang juga harus hati-hati menggunakan bentuk biasa dan bentuk lampau dari ungkapan ini, misalnya ketika mengakhiri suatu pembicaraan atau ceramah. Apabila diucapkan arigatou gozaimasu di akhir pembicaraan tersebut akan memberi pengertian kepada pendengar bahwa pembicaran belum lagi selesai dan akan dilanjutkan lagi. Pada situasi begini harus digunakan bentuk lampau menjadi arigatou gozaimashita.
  • ありがとう 'arigatou'. ありがとう‘arigatou’ merupakan ungakapan terimakasih dalam bahasa Jepang yang standar. Sering digunakan untuk mengungkapkan rasa terimakasih kepada orang yang seumuran, teman atau orang lain yang sudah akrab.Ungkapan ini juga bisa memberikan nilai sosial yang lain Bila seseorang mengambilkan buku yang terjatuh, seolah-olah sudah merupakan tugasnya berbuat demikian sehingga tidak perlu disampaikan ucapan terima kasih kepadanya. Dalam hal ini lebih baik digunakan ungkapan 'Sumimasen' yang bermakna permintaan maaf atas susah payah yang dilakukan dan juga mengandung rasa terima kasih. Sementara anak kecil lebih banyak mengucapkan arigatou pada hal- hal seperti ini, orang dewasa yang mengucapkan ungkapan yang sama sama akan kedengaran kekanak- kanakan.
  • どうも ‘doumo’. Ungkapan ini juga bisa diartikan terima kasih banyak. Kadangkala digunakan kata ‘doumo’ saja di antara orang yang sudah akrab, dan kepada orang yang lebih rendah menggantikan ungkapan arigatou.
  • サンキュウ ‘sankyuu’. Dalam bahasa Inggris, ucapan terimakasih diungkapan dengan istilah ‘thankyou’. Dari kata inilah, yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Jepang sehingga mereka menyebutnya サンキュウ ‘sankyuu’. Ungkapan terimakasih ini hanya sering digunakan oleh kaum muda-mudi Jepang, sehingga bisa disebut sebagai bahasa anak muda Jepang. Dalam pengungkapannya, kebanyakan dari mereka sering menuliskannya dengan angka 3 ‘san’ dan 9 ‘kyuu’. Sehingga angka 39 ‘san kyuu’ mewakili ucapan terimakasih サンキュウ ‘sankyuu’ dari kata ‘thankyou’.


Orang yang banyak berhubungan bisnis sering mengucapkan 'maido arigatou gozaimasu' bila menerima telepon dari partner dagangnya. Sukar dicarikan terjemahan yang tepat dari ungkapan ini. 'Maido' bisa diartikan sebagai “setiap kali, setiap waktu, sering” dan lain-lain. Jadi, ungkapan di atas mengandung makna “Terima kasih atas segala kebaikan yang selalu diberikan kepada kami.” Kadangkala hanya diucapkan 'Maido' saja.


ありがとう 'arigatou', ungkapan ini berarti “Terima kasih,” tapi secara harfiah mengandung arti “Sukar.” Makna dalamnya sangat dijiwai oleh orang Jepang yang berpandangan bahwa sedapat- dapatnya seseorang harus membalas kebaikan yang diberikan orang lain. Mengingat sukarnya membalas budi seseorang, mereka menyatakan kebaikan yang diterima tersebut merupakan sesuatu yang sukar dibalas. Oleh karena itu jika orang Jepang menerima satu bentuk kebaikan, maka ungkapan terimakasihnya tidak hanya diucapkan cukup sekali saja, bahkan berkali-kali pada tempo waktu selanjutnya. Mereka merasakan bahwa kebaikan yang dilakukan seseorang terhadap dirinya merupakan hal yang berkaitan dengan balas budi yang tidak bisa dilupakan begitu saja atau dilupakan dengan begitu mudahnya. Serta, memang mereka sangat menghargai orang yang tidak jemu untuk mengungkapan terimakasih atas kebaikan yang telah diterima.

Testimonial

Partners

Buku Terbitan I'Mc