ももたろう 'Momotaro'

Konnichiwa Minnasan...

Kali ini I'Mc Center tempat kursus bahasa Jepang di Surabaya menghadirkan topik baru berupa pengenalan cerita rakyat Jepang. Salah satu yang akan kita bahas di sini adalah cerita rakyat Jepang ももたろう 'Momotaro'. Walaupun inti dari cerita rakyat ini sangat sederhana, tapi ini perlu diketahui oleh teman-teman yang sangat ingin menambah wawasan tentang Jepang. Jika diperhatikan secara sekilas, cerita rakyat ももたろう 'Momotaro' ada kemiripan dengan cerita rakyat Indonesia yaitu cerita Timun Emas. Bagaimana detail cerita ももたろう 'Momotaro'? Silahkan menyimak cerita ももたろう 'Momotaro' yang disajikan dalam teks aslinya yaitu dalam Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia, seperti berikut ini.. ^o^

 

{jcomments on}

 

ももたろう 'Momotaro'

Dahulu, tinggallah kakek dan nenek di suatu tempat. Suatu hari, kakek pergi ke gunung untuk mengambil kayu bakar. Sedangkan nenek pergi membawa sebuah baskom besar ke sungai untuk mencuci pakaian.Saat nenek mencuci pakaian tersebut, dari arah sungai bagian atas, ia melihat buah momo hanyut, buah momo berukuran besar yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Si nenek terkejut, “Ini, ini, mengejutkan. Seperti momo besar yang dijatuhkan oleh dewa bulan”.

 

Nenek memanggil dengan suara yang keras ke arah buah momo. Buah momo tersebut terapung-apung di atas aliran sungai menuju arah nenek. “Sepertinya ini buah momo ajaib”, nenek dengan bersusah payah menjemputnya menuju tepi sungai.“Hup!!”, nenek berhasil merangkul buah momo kemudian membawanya pulang. Saat sore tiba, si kakek kembali dari gunung, “Eh, aku terkejut. Belum pernah aku melihat buah momo sebesar ini. Kelihatannya enak”.

 

Nenek memotong momo menggunakan pisau dapur. Kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi yang keras. Nenek berkata, “bukankah ini bayi laki-laki yang keluar dari buah momo”.

Keduanya terkejut, tapi mereka sangat gembira. “mungkin ini adalah pemberian dari Tuhan karena kita tidak memeiliki anak”. Kemudian, anak laki-laki yang terlahir dari momo tersebut diberi nama “Momotaro”. Kakek dan nenek mebesarkan Momotaro dengan sangat baik. Momotaro memakan kibidango (kue dango berbentuk bulat yang terbuat dari ), kemudian dia perlahan tumbuh menjadi besar. Momotaro menjadi pemuda yang gagah.

Pada suatu hari, datanglah orang dari ibu kota yang membicarakan tentang raksasa kepada Momotaro. Raksasa jelek yg ada di pulau setan menghancurkan rumah penduduk, merampok dan mengamuk seluruh kota membuat semua penduduk kebingungan. “Dasar, raksasa jahanam!”.Momotaro membulatkan tekad,“aku akan menaklukkan raksasa itu!”. Kakek dan nenek membuatkan kibidango untuk menambah kekuatan Momotaro, “Bawalah kibidango yang jika kamu memakan satu butir kibidango, kekuatanmu akan bertambah menjadi 100 kali kekuatan manusia” Kemudian berangkatlah Momotaro.

Beberapa lama dia pergi, datanglah seekor anjing yang kemudian meminta sesuatu padanya, “Tuan Momotaro, maukah engkau memberikan sebutir kibidango yang ada di pinggangmu itu?”. Setelah Momotaro memberikan kibidango, anjing tersebut menjadi pengikutnya.

Saat Momotaro bersama anjing mendekati jalanan gunung, mereka berjumpa dengan seekor monyet, “Tuan Momotaro, maukah engkau memberikan sebutir kibidango yang ada di pinggangmu itu?”. Setelah Momotaro memberikan kibidango, monyet pun menjadi pengikutnya. Kemudia mereka meneruskan perjalanan bersama.

Saat Momotaro, anjing dan monyet berjalan kaki, kali ini datanglah seekor burung pegar, “Tuan Momotaro, maukah engkau memberikan sebutir kibidango yang ada di pinggangmu itu?”. Setelah Momotaro memberikan kibidango, burung peger itu pun menjadi pengikutnya. Kemudian mereka meneruskan perjalanan bersama.

Momotaro, anjing, monyet beberapa lama kemudian mereka menuju ke pantai pulau setan, “Pak nelayan, tolong pinjamkan kapalmu hingga sampai ke pulau setan. Aku akan pergi ke sana untuk menaklukkan si raksasa jahat”, kata Momotaro. Si nelayanpun meminjamkan kapalnya dengan perasaan gembira.

Kapal terhempas banyak angin, lanjut menuju pulau setan. Akhirnya, sampailah mereka sampai di pulau setan, kemudian melanjutkan menuju ke istana tempat di mana raksasa tinggal. Istana tersebut tertutup oleh dahan pintu besi yang kokoh, didorong atau ditarik sekalipun tidak bisa terbuka. “Ah,aku punya ide”. Monyet berayun-ayun pada burung pegar, setelah melintasi gerbang, masuklah mereka ke dalam. Kemudian kunci dibuka dari dalam untuk membuka pintu.“Ha!!!” degan teriakan yang berani, Momotaro menyerang ke dalam gerbang. “akan aku habisi, si Momotaro yang sombong ini!”, pemimpin dari raksasa mnyerang Momotaro dengan mengayunkan tongkat besarnya.

Momotaro segera melahapa satu butir kibidangonya. “kekuatan seratus orang dari kibidango terbaik di Jepang!”. Momotaro menangkap ketua raksasa dan kemudian menhempaskannya, “Hiaaattt!!”. “sakit,sakit!!”Anjing mennggonggong kemudian menggigit kaki si raksasa, monyet mencakar-cakar wajahnya. Burung pegarpun mematuk matanya sehingga ia tidak bisa melarikan diri. “Aduh.. Aduh.. aku menyerah. Tolong aku!!” para raksasa mencoba melarikan diri.Para raksasa sungguh-sungguh kesakitan. Pimpinan raksasa yang ditikam menggunakan pedang oleh Momotaro meminta maaf, “tolong maafkan kami. Kami tidak akan menulangi perbuatan jahat untuk kedua kalinya”. Para pengikut raksasapun semuanya mengangkat tangan sambil menundukkan kepala.

Momtaro menarik pedangnya, “aku akan memaafkanmu jika kau tidak mengulangi kejahatan lagi. Serahkan semua harta benda yang sudah kalian curi.”Iya, kami mengerti”.Kemudian Momotaro membawa pulang semua harta benda yang telah dikembalikan oleh para raksasa dengan cara memuatnya ke dalam kereta. Kemudian mengembalikan semuanya kepada pimpinan desa, “kerja bagus,nak!”, kepala ibu kota memberikannya hadiah. Momotaro membagikan semua hadiah yang diterima dari kepala ibu kota kepada orang-orang yang miskin. Kepala ibu kota semakin menyukai Momotaro, “Momotaro, aku ingin kau menjadi suami putriku”. Semua orang memberati Momotaro, kemudian ia hidup bahagia dengan sang putri.

 

ももたろう

むかし、ある ところに おじいさんと おばあさんが すんでいました。ある日、おじいさんは、山へたきぎを とりに でかけました。おばあさんは、大きな たらいをもって、川へ せんたくに いきました。


お ばあさんが せんたくを していると、川の 上の ほうから 見た ことも ないような 大きな ももが ながれて きます。「これは これは おどろい た。まるで お月さまが おちて きたような 大きな ももじゃ。」おばあさんは びっくり。「大きな ももよ、こっちへ おいで。」
おばあさんは 大きな こえで よびました。ももは どんぶらこ どんぶらこと おばあさんの ほうへ ながれて きました。「なんて ふしぎな ももじゃろう。」おばあさんは やっとこさ ももをきしに ひろいあげました。


「よっこらしょ。」おばあさんは、おもい ももを かかえて、いえに かえりました。ゆうがたに なると、おじいさんが 山から かえって きました。「へえ、おどろいた。こんなに 大きな ももは 見たことが ないぞ。おいしそうじゃのう。」


おばあさんは ほうちょうで ももを きりました。すると まあ!!「おぎゃあ、おぎゃあ。」げんきな こえを あげて、中から 男の 赤ちゃんが でてきたでは ありませんか。「おぎゃあ、おぎゃあ。」
二人はびっくりしましたが、たいへん よろこびました。「子どもの いない わたしたちに かみさまが さずけて くださったのでしょう。」そして、ももから うまれた 男の子に『ももたろう』という 名まえを つけました。
おじいさんと おばあさんは、ももたろうをだいじに だいじに そだてました。ももたろうは、おばあさんの つくる おいしい きびだんごを たべて、どんどん 大きくなって いきました。もう りっぱな 少年です。
ある日、みやこからきた 人が、ももたろうに おにの はなしを しました。「おにがしまの わるい おにが、いえを こわしたり ものを うばったりして、みやこを あらしまわって みんな こまって います。」「うーん、おにの やつめ。」


ももたろうは けっしんしました。「ぼくが おにを たいじする!」おじいさんと おばあさんは、ももたろうの ために、力の つく きびだんごを つくりました。「一つ たべたら 百人力の きびだんごを もって しゅっぱつだ。」ももたろうは でかけました。


しばらく いくと、犬が やってきて、ももたろうに たのみました。「ももたろうさん、ももたろうさん、おこしに つけた きびだんご、一つ わたしに くださいな。」ももたろうが きびだんごを あげると、犬は よろこんで ももたろうの けらいに なりました。


ももたろうと 犬が 山みちに さしかかると、さるに あいました。「ももたろうさん、ももたろうさん、おこしに つけた きびだんご、一つ わたしに くださいな。」。ももたろうが きびだんごを あげると、さるも けらいに なり、いしょに ついて きました。


ももたろうと 犬と さるが あるいて いくた、こんどは きじが とんで きました。「ももたろうさん、ももたろうさん、おこしにつけた きびだんご、一つ わたしに くださいな。」ももたろうが きびだんごを あげると、きじも けらいに なって ついて きました。


ももたろうと 犬、さる、きじは、やがて おにがしまの 見えるうみべに やって きました。「りょうしさん、おにがしままで ふねを かして ください。わるい おにを たいじしに いくんです。」りょうしは よろこんで ふねを かして くれました。


ふねは ほに いっぱい かぜを うけて、おにがしまに むかって すすみました。そして ついに おにがしまに つきました。ももたろうと 犬、さる、きじは、おにの すむ おしろに むかって すすみはじめます。
おしろは がんじょうな てつの とびらが とざして いて、おしても ひいても ひらきません。「よし、いい かんがえが ある。」さるが きじに ぶらさがり、もんを とびこえると 中へ 入りました。そして 中から かぎを はずして もんを あけます。


「わあーっ!」ももたろうは かけごえも いさましく、もんの中へ せめこみました。「なまいきな ももたろうめ、やっつけて やる!」おにの たいしょうが 大きな てつぼうを ふりあげて、おそいかかって きました。


ももたろうは きぴだんごを ぱくっと一つ たべました。「日本一の きびだんごを 一つ たべれば 百人力だ!」ももたろうは おにの たいしょうを つかむと なげとばしました。エーイツ、ドッスーン!「いたたた、いてて。」
犬は ワンワン おにの 足に かみつき、さるは キイキイと おにの かおを ひっかきました。きじも ケンケン おにの 目を つついたから たまりません。「ヒイヒイ、これは まいった。たすけて くれえ。」おには にげまどいます。


おにたちは さんざんな めに あいました。ももたろうに かたなを つきつけられた たいしょうは、「おゆるしください。もう 二どと わるい ことは しません。」と あやまりました。けらいの おにたちも、みんな てを ついて あたまを さげました。

「もう、わるいことを しないなら ゆるして あげよう。」ももたろうは かたなを ひきました。「おまえたちが ぬすんで きたたからものは、わたしが みんなに かえして あげる。」「はい、はしこまりました。」
ももたろうたちは おにから とりかえした たからものを、車に つんで かえりました。そして、みやこや 村の もとの もちぬしに かえしました。「あっぱれな やつじゃ。」みやこの とのさまは、ももたろうに ほうびを さずけました。
も もたろうは とのさまから もらった たくさんの ほうびを、まずしい ひとたちに わけて あげました。とのさまは ますます かんしんしました。「も もたろう、わたしの ひめの むこに なって ほしい。」ももたろうは 人びとに しゅくふくされて、おひめさまと しあわせに くらしました。

参考文献:名作アニメ絵本シリーズ 20 “ももたろう”

Testimonial

Partners

Buku Terbitan I'Mc