Pengajaran Tata Bahasa Jepang pada Tahap Pemula

oleh: Irma Nurmala SariUniversitas Negeri Surabaya

Abstrak :

Pengajaran bahasa asing, khususnya bahasa Jepang adalah sesuatu hal yang kompleks, terutama dalam bidang tata bahasa. Apa yang dipelajari pada tahap pemula atau tajap awal merupakan kunci dari keberhasilan penguasaan bahasa asing yang akan diperoleh di akhir pembelajaran. Bagi pelajar bahasa Jepang, tata bahasa bisa dianggap sebagai kompas dalam praktek bahasa pada kenyataannya. Pengajaran tata bahasa yang benar adalah tidak semata-mata berpusat pada tata bahasa itu

sendiri, namun juga harus diseimbangkan dengan pelatihan keterampilan yang faktual. Untuk menanamkan bekal tata bahasa yang kuat, para pengajar harus mengetahui metode atau cara yang tepat untuk diberikan kepada para pelajar bahasa Jepang tahap pemula dalam proses belajar mengajar.
Baca Selengkapnya

 

PENDAHULUAN

Sebagaian besar orang menganggap bahwa mempelajari bahasa Jepang sangatlah kompleks dan sulit dipahami. Namun pada kenyataannya, dari tahun-ketahun orang yang berminat mempelajari bahasa Jepang semkin meningkat. Kesuksesan pembelajaran bahasa Jepang pasti tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan proses pengajarannya sendiri. Untuk para pelajar tingkat pemula, pasti merasakan kesulitan dalam menerapkan struktur tata bahasa Jepang yang berbeda dengan struktur bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang lebih dahulu dipelajari. Pada tahap pemula inilah pengajaran tata bahasa ditekankan sungguh-sungguh agar pada tingkat pembelajaran selanjutnya, pelajar tersebut bisa mencapai penguasaan aspek mendengar, berbicara,membaca, dan menulis dengan baik. Untuk itu, hal-hal yang bersangkutan dengan pengajaran tata bahasa Jepang pada tahap pemula diusahakan untuk dibahas lebih lanjut dalam makalah ini, antara lain:


PEMBAHASAN

Pengenalan tata bahasa Jepang secara umum kepada pelajar tahap pemula

Pada awal pengajaran bahasa Jepang, pengajar harusnya bisa memeberikan gambaran secara umum tentang bagaimana keadaan gramatikalnya, bagaimana perbedaannya jika dibandingkan dengan gramatika bahasa lain yang lebih dahulu dipelajari. Bahasa Jepang adalah bahasa yang memiliki struktur pola kalimat “subjek+objek+verba (S+O+V)”, sedangkan dalam bahasa asing lain misalnya bahasa Inggris yang memiliki stryktur pola kalimat umum “subjek+verba+objek (S+V+O)”. Hal ini merupakan fakta dasar yang memiliki arti (A Course in Modern Japanese:xv) sebagai berikut:a. Verba selalu terletak di akhir kalimatb. Subjek dan objek selalu mendahului verbac. Kata sifat atau kata kerja modifier mendahului verbad. Kata keterangan mendahului verbae. Bahasa Jepang tidak memiliki kata depan (preposisi) apapun. Hubungannya antara sebuah kata benda dan sebuah kata kerja, jelas dibuat dengan sebuah posisi pusat (postposition) yang disebut dengan partikelf. Sebuah klausa modifier(kata yang menunjukkan sifat) mendahului kata bendag. Sebuah kata konjungtif berarti ‘kapan’, ‘lebih dulu’, dan lainnya, tak pernah muncul di awal sebuah klausa, tetapi selalu diletakkan di akhir


Peran tata bahasa Jepang bagi para pelajar tahap pemula yang belajar bahasa Jepang

Ruang lingkup pengetahuan tata bahasa Jepang yang diperlukan oleh siswa tingkat pemula yaitu seputar aturan-aturan tata bahasa yang dapat mereka gunakan untuk menguasai aspek keterampilan mendengar dan berbicara. Jika mereka dapat menguasai kaidah-kaidah tata bahasa tersebut, diharapkan mereka dapat menggunakan bahasa Jepang dengan baik dan benar. Namun kenyataannya, walaupun ada pelajar yang sudah menguasai kaidah-kaidah tata bahasa, tapi bila pelajar tersebut tidak bisa menafsirkan, menghubungkan dan mengaplikasikannya saat berbicara atau menulis dalam bahasa Jepang, maka pengetahuan tata bahasanya menjadi kurang berguna atau kurang fungsioanal. Bagi pelajar umum, tata bahasa menjadi semacam kompas dalam pemakaian bahasa. Bagaimanapun juga, penguasaan tata bahasa tidak bisa dinomor duakan. Walaupun sekarang ini ada juga yang berpendapat bahwa orientasi pada latihan percakapan harus lebih diutamakan dari pada orientasi tata bahasa. Seorang pengajar yang baik haruslah bisa menyeimbangkan hal tersebut. Sehingga, pada pengaplikasiannya pelajar tersebut bisa memiliki aspek keterampilan mendengar, berbicara,membaca, dan menulis yang semakin seimbang dan baik karena ditunjang penguasaa tata bahasa yang baik pula.


Hal pokok yang harus diperhatikan dalam pengajaran tata bahasa Jepang pada tahap pemula

Walaupun dalam hal ini tata bahasa menjadi titik utama, dalam pengajaran tata bahasa, para guru bukan berarti hanya hanya memberikan pengetahuan tentang ilmu bahasa yang telah dikuasai kepada pelajar tahap pemula begitu saja. Pengajaran tata bahasa tidak sesederhana itu. Dalam mengajar tata bahasa pada orang asing (yang sebelumnya belum pernah mempelajari bahasa Jepang) khususnya pada pemula, guru sebagai pengajar harus memberikan materi pelajaran sedikit demi sedikit, terutama pada pokok-pokok tata bahasa yang dirasa sangat pentig atau diperlukan. Dengan demikian, sebelum masuk kegiatan pembelajaran,pengajar harus bisa membuat rancangan memulainya dari mana, apa yang akan diajarkan, dan bagaimana cara mengajarkannya agar mencapai hasil yang maksimal. Kemudian, harus mengetahui dengan pasti apa yang akan diajarkan dan apa yang tidak perlu diajarkan untuk sementara waktu.


Permasalahan yang sering muncul saat pengajaran tata bahasa Jepang pada tahap pemula

Pada umumnya, pelajar bahasa Jepang pada tahp pemula menggunakan buku pelajaran tata bahasa tingkat awal yang ditulis dengan bahasa asli mereka, bukan menggunakan bahasa Jepang. Hal ini dimaksudkan agar mereka mendapatkan kemudahan dalam pemahaman tata bahasa. Tetapi, walaupun mereka nisa memahami uraian dalam buku pelajaran tersebut, adakalanya masih sering menghadapi kesulitan untuk benar-benar dapat menguasai persoalan tata bahasa termasuk juga pemaham terhadap pengertian fungsi dari masing-masing kata yang dilihat dari segi ketata bahasaan. Pemahaman tata bahasa tidaklah hanya terbatas untuk pemenuhan pencaapaian keterampilan memahami bacaan, tapi juga harus mencakup kemempuan aktifitas berbahasa yang lain seperti : mendengar, berbicara,membaca, dan menulis. Maka, pengajaran tata bahasa tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan uraian-uraian tentang bahasa yang terdapat dalam buku-buku pelajaran saja.Selain hal di atas, ada pula masalah yang muncul, yaitu tututan siswa atas penjelasan atau pembenaran pada struktur pola tata bahasa sebuah kalimat yang salah. Memang dalam hal kesalahan ucapan, secara mudah pengajar dapat mengatasinya dengan cara langsung melakukan koreksi pembetulan. Tapi, dalam hal kesalahan yang berhubungan dengan unsur tata bahasa terkadang siswa sering meminta penjelasan yang lebih lanjut atas hal yang dianggap salah oleh pengajar.Misalnya pada kalimat ‘ 道を歩く (berjalan di jalan)’. Bila ada siswa yang mengucapkan ‘ 道に歩く ’ atau  道で歩く, dengan mudah pengajar membetulkannya, yaitu dengan meminta siswa tersebut mengucapkan ‘ 道を歩く ’.namun, tidak bisa dihindari bahwa siswa sering mengajukan pertanyaan lebih lanjut terhadap struktur pola kalimat tersebut. Maka pengajar harus menjelaskannya sesuai kaidah tata bahasa Jepang yang benar, yaitu: jika kitamenggunakan verba yang sifatnya menunjukkan perpindaha, seperti 歩く(berjalan)、通る(melewati)、出る(keluar) dan lainnya maka partikel yang harus digunakan untuk mengikuti verba tersebut adalahをbukan にatauで.Dalam pengajaran kaidah tata bahasa, pertanyaan “mengapa” memang merupakan hal yang sukar untuk dijawab. Pertanyaan senacam itu merupakan hal yang wajar terjadi pada siswa pada tahap pemula pada khususnya. Hal tersebut terjadi karena disebabkan adanya pengaruh bahasa ibu siswa itu sendiri yang lebih dahulu dipelajari sebelum mempelajari bahasa Jepang.


Metode yang tepat digunakan dalam pengajaran tata bahasa Jepang pada tahap pemula

Pada dasarnya metode pengajaran tata bahasa memiliki pengertian bagaimana sebaiknya cara mengajarkan suatu bahasa. Dalam pengajarn bahasa asing, dahulu sering digunakan metode terjemahan tata bahasa. Tapi sekarang, sesuai dengan perkembangan system pengajaran, metode tersebut memiliki cukup banyak kelemahan, yaitu (Kimura Muneo:132):a. Lebih mengutamakan pemahaman membaca teks. Akibatnya terlalu banyak menyuruh siswa memahami bacaan melalui terjemahan, maka siswa cenderung hanya memprhatikan terjemahan tersebut daripada teks aslinyab. Siswa tidak dilatih aspek bunyi fonologi bahasac. Hasilnya tidak dapat mengembangkan kemampuan aktif siswa (menulis, berbicara)Suatu metode dikatakan baik apabila digunakan sesuai dengantujuan pembelajaran.Dari sekian macam metode, metode eklektika dirasa sesuai dalam pengajaran tata bahasa Jepang pada tahap awal.hal in disebabkan karena metode eklektika (Kasurijanto:100):a. Menggabungkan sisi-sisi menguntungkan dari metode-metode yang biasa digunakandalam pengajaran bahasa asing.b. Dalam pengajaran, menggunakanbahasa ibu yang biasa digunakan oleh siswa untuk memberikan penjelasan dan memberikan terjemahan seperlunya untuk mempercepat proses pengajaran, menghindarkan salah paham dan mencegah pemborosan waktuc. Keterampilan berbahasa diajarkan umumnya dalam urutan: berbicara-pemahaman-dan akhirnya membacad. Kegiatan yang diberikan mencakup latihan, bercakap-cakap, membaca bersuara dan Tanya jawabe. Tata bahasa diajarkan secara deduktiff. Metode ini fleksibel, mudah disesuaikan dengan keperluan pengajaranMenurut Willhem Viëtor, orang yang pertama kali melakukan pembaharuan di bidang metode pengajaran asing (Jerman, 1850-1918), pengajaran tata bahasa harus terkandung pada buku pelajaran siswa dengan format yang alamiah. Guru menyuruh siswa untuk mencoba membandingkan materi pelaaran tertentu dengan tata bahasa yang telah dipelajari pada buku pelajaran. Dengan demikian, siswa dapat memahami tata bahasa yang sistematik.

PENUTUP

Bagi siswa tahap pemula, penguasaan tata bahasa menjadi kompas dalam pembelajaran Bahasa Jepang. Maka, pengajar harus bisa menanamkan pemahaman tata bahasa kepada para siswa dengan baik sebelum menuju keaspek pengajaran yang lain. Bagaimanapun juga, penguasaan tata bahasa pada tahap pemula akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan kemampuan atau keterampilan berbahasa siswa pada tahap yang lebih lanjut.Pada pengajaran tata bahasa, guru selaku pengajar tidak boleh hanya memberikan aturan-aturan tata bahasa yang hanya sebagai pengetahuan saja, tetapi guru harus pula membimbing para siswa dalam melakukan latihan-latihan agar mereka dapat menggunakannya dengan benar. Sehingga, anggapan mempelajari tata bahasa tidak begitu penting jika dibandingkan dengan pelatihan keterampilan berbicara.seorang guru juga harus jeli memilih pendekatan dan metode yang tepet sebelum memulai proses belajar mengajar yang sebenarnya.Pengajar harus memberikan materi tata bahasa secara sedikit demi sedikit mengingat siswa yang dihadapinya masih dalam tahap pemula. Hal ini dimaksudkan agar informasi teserap dengan maksimal.


Daftar Pustaka

Kasurijanto, dkk. 1989. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Surabaya : FPBS-IKIP Surabaya

Kimura, Muneo. 1993. Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran Bahasa Jepang. Bandung : Percetakan Ekonomi

Staff of The Japanese Section, Center for Linguistik&Cultural Research, University of Nagoya. 1983.

A Course In Modern Japanese. Nagoya :The University of Nagoya Press

Testimonial

Partners

Buku Terbitan I'Mc