Tokusatsu dari Jepang adalah topik yang menarik, terutama saat membahas mengenai Ultraman. Sebuah serial film superhero yang berasal dari Jepang, Ultraman telah menemani kita sejak kecil hingga kini, diproduksi oleh Tsuburaya Productions. Ketika berbincang tentang Ultraman di Indonesia, rasanya tidak lengkap jika kita tidak membahas Ultraman Tiga, raksasa cahaya yang selalu setia tampil di layar kaca kita setiap akhir pekan.
Segalanya dimulai dari visi Bapak Efek Khusus, Eiji Tsuburaya. Setelah berhasil dengan film monster Godzilla, ia berkeinginan untuk menciptakan sosok pahlawan yang dapat melindungi manusia dari ancaman kaiju atau monster raksasa. Pada tahun 1966, lahirlah seri Ultraman yang pertama. Desainnya yang ikonik berwarna merah dan perak, lengkap dengan Color Timer di bagian dadanya, segera menarik perhatian banyak orang. Konsep pahlawan yang hanya mempunyai waktu tiga menit untuk bertarung ini menambah ketegangan yang unik dan mengesankan di ingatan para penonton hingga saat ini.
Di Indonesia, keberadaan Ultraman mulai dikenal melalui berbagai stasiun televisi swasta sejak tahun 90-an. Namun, puncak popularitasnya terjadi saat Ultraman Tiga ditayangkan di awal tahun 2000-an. Berbeda dari pendahulunya, Tiga memiliki kemampuan untuk berubah bentuk yang memungkinkan penyesuaian dengan kekuatan dan kecepatannya, sebuah inovasi yang membuat anak-anak kala itu terpaku di depan televisi.
Ada beberapa faktor yang mendukung mengapa Ultraman begitu diminati di Indonesia. Selain karena pertarungannya yang seru, setiap episodenya mengandung pesan moral yang kuat seperti nilai keberanian, persahabatan, serta menjaga lingkungan. Hal ini didukung dengan kemudahan akses mainan, di mana banyak anak-anak mengumpulkan figur aksi kecil atau kartu Ultraman yang dijajakan di depan sekolah, sehingga menciptakan ikatan emosional yang mendalam. Tak lupa, lagu tema khas yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia membuat siapa pun yang mendengarnya akan langsung ikut bernyanyi saat lagu dimulai.
Menariknya, kecintaan terhadap Ultraman tidak terbatas pada generasi milenial saja. Tsuburaya terus menciptakan inovasi lewat seri-seri baru seperti Ultraman Cosmos, Nexus, Zero, hingga yang terbaru seperti Ultraman Blazar dan Arc. Di Indonesia sendiri, komunitas penggemar Ultraman semakin solid. Tidak hanya anak-anak, banyak orang dewasa yang kini menjadi kolektor barang-barang langka atau berpartisipasi dalam cosplay sebagai wujud apresiasi terhadap pahlawan masa kecil mereka. Ultraman kini bukan lagi sekadar tontonan, tetapi telah menjadi simbol harapan bahwa cahaya akan selalu ada untuk mengatasi kegelapan. Tutug Sugiharto