UPACARA TRADISIONAL DI JEPANG
Upacara tradisional di Jepang kebanyakan berasal dari China. Beberapa di antaranya telah lenyap. Tetapi, sekarang ini pun hampir di setiap keluarga di Jepang masih menyelenggarakan bermacam-macam upacara trandisional.
Pertama, pada bulan Januari ada upacara Shogatsu (Tahun Baru). Di pintu masuk rumah-rumah dihiasi dengan ranting-ranting pohon cemara dan semacam tali yang dianggap suci. Pada pagi harinya mereka memakan kue mochi. Banyak orang pergi bersembahyang ke kuil-kuil Budha dan tempat-tempat suci agama Shinto.
Pada permulaan bulan Februari ada Setsubun (upacara sehari sebelum mulainya musim gugur menurut lunar kalender). Ini menandakan / dimaksudkan musim dingin yang panjang telah berakhir. Pada malam hari diwaktu Setsubun, mereka menabur-naburkan kacang dengan maksud bahwa dengan kacang-kacang itu mereka dapat mengusir setan jahat dan mengundang dewa keberuntungan ke dalam rumah-rumah mereka.
Pada tanggal 3 Maret ada Hina-matsuri, yaitu Hari Festival anak-anak perempuan. Anak-anak perempuan menghiasi rumahnya dengan boneka-boneka festival anak perempuan (Hina-Ningyo: boneka Hina). Pada tanggal 5 Mei adalah Festival anak laki-laki dimana anak laki-laki menaikkan Koinobori (bendera yang berbentuk ikan yang mempunyai ekor panjang).
Pada bulan Juli ada Tanabata, yaitu Festival Bintang. Hanya pada malam hari saja satu kali dalam satu tahun Bintang Ushikai menyebrangi Ama no Gawa dan kemudian bertemu dengan Bintang Orihime. Ini merupakan cerita romantik China.
Di daerah Kanto pada bulan Juli dan di daerah Kansai pada bulan Agustus diadakan “Upacara Bon”. Selama upacara Bon, leluhur para nenek moyang kami kembali ke bumi. Kami menyambut mereka pada hari pertama dan mengantar mereka pulang pada hari terakhir dengan menyalakan api untuk jalan mereka pulang. Daimonfi yang terkenal di Kyoto merupakan salah satu dari upacara tersebut.
Pada waktu musim gugur, langit cerah dan bulan sangat indah. Kami menikmati pemandangan bulan purnama di bulan September. Bulan Oktober adalah bulan yang baik untuk berolahraga. Sekolah-sekolah mengadakan pertandingan atletik. Lagipula banyak orang yang mendaki gunung dan bersepeda.
Musim gugur pun merupakan musim panen. Banyak desa dan kota menyelenggarakan upacara, merayakan panen yang berlimpah dalam bulan Oktober dan November.
Pada tanggal 15 November merupakan upacara Shici-go-san, yaitu upacara anak-anak dimana para orang tua membawa anak-anaknya yang berumur tiga, lima dan tujuh tahun pergi bersembahyang di kuil.
Setiap orang sangat sibuk di akhir tahun. Mereka membersihkan rumah dan membuat kue mochi. Di malam tahun baru, jam 12.00 tengah malam suara lonceng berdentang di kuil sebagai tanda berlalunya tahun lama untuk menyambut tahun baru.
Sumber data: ATARASHI NIHONGO
Editor Yoshida Yasuo