Pemerintah Kota Kyoto tengah mempertimbangkan kebijakan berani untuk menaikkan tarif bus umum bagi wisatawan hingga dua kali lipat dibandingkan tarif untuk penduduk lokal. Langkah yang direncanakan mulai berlaku pada tahun fiskal 2027 ini diambil sebagai respons atas masalah kelebihan pariwisata atau overtourism yang mulai membebani kota bersejarah di wilayah barat Jepang tersebut. Jika rencana ini terwujud, Kyoto akan menjadi kota pertama di Jepang yang menerapkan sistem harga bertingkat yang memberikan keistimewaan bagi warga setempat.
Dalam skema tersebut, pemerintah kota berencana menaikkan tarif bus bagi pengunjung dari luar kota menjadi antara 350 hingga 400 yen. Sebaliknya, tarif untuk penduduk lokal justru akan diturunkan dari harga saat ini 230 yen menjadi 200 yen saja. Kyoto, yang sangat dikenal dengan kuil-kuil kuno dan budaya tradisionalnya, berharap inisiatif ini dapat menciptakan keseimbangan yang lebih harmonis antara sektor pariwisata dan kualitas hidup warga lokal. Selain itu, kenaikan tarif tersebut juga mencerminkan tekanan inflasi dan meningkatnya biaya tenaga kerja di sektor transportasi.
Wali Kota Kyoto, Koji Matsui, menyampaikan bahwa meski beban biaya bagi turis akan meningkat, ia berharap kebijakan ini dapat dipahami sebagai langkah pelestarian lingkungan kota yang berkelanjutan. Untuk menjalankan sistem ini, pemerintah kota berencana menggunakan kartu transportasi IC yang terintegrasi dengan kartu identitas nasional “My Number” guna membedakan identitas penduduk lokal dan pendatang. Saat ini, pihak kota masih berdiskusi dengan kementerian terkait untuk memastikan bahwa perbedaan tarif ini tidak melanggar undang-undang transportasi jalan di Jepang mengenai larangan diskriminasi yang tidak adil. Selain itu, pengecualian juga tengah dipertimbangkan bagi mereka yang bukan penduduk Kyoto namun harus pulang-pergi ke kota tersebut untuk keperluan sekolah atau pekerjaan.