Article
Ichigo Gari: Wisata Petik Stroberi yang Menguntungkan di Jepang
Musim semi merupakan salah satu musim paling dinanti di Jepang. Di musim semi, baik wisatawan maupun warga lokal kompak mengunjungi daerah-daerah wisata yang menawarkan keindahan alamnya. Tak heran, sebab keindahan alam dari negeri matahari terbit ini tampil sempurna saat bunga-bunga mulai bermekaran.
Salah satu destinasi wisata terpopuler di Jepang saat musim semi adalah Ichigo Gari, atau dalam Bahasa Indonesia yaitu memetik strawberry. Di saat sesi Ichigo Gari, pengunjung bisa memilih sendiri buah yang mereka inginan dan memakannya di tempat.
Biaya dari aktivitas memetik strawberry ini berkisar dari 2000 hingga 3000 yen. Beberapa perkebunan strawberry tidak menerapkan batasan waktu atau jumlah maksimal strawberry yang dapat dipetik. Lalu, bagaimana para petani strawberry bisa mendapatkan keuntungan dari minimnya batasan yang diterapkan ?
Cara Kerjanya
Perkebunan Yoshimura di Tochigi, merupakan salah satu perkebunan strawberry yang menyediakan wisata ini. Harga yang dipatok adalah 2500 yen untuk dewasa. Jika pelanggan bisa memakan 40 atau lebih strawberry, mereka akan mendapatkan penawaran harga yang lebih baik ketimbang membelinya langsung.
Umumnya para pelanggan dapat memetik hingga 70 buah, dan beberapa bahkan menargetkan hingga 200 buah. Beberapa pelanggan bahkan membawa osenbei atau makanan ringan yang terbuat dari tepung beras untuk memadukan rasa manis strawberry dengan gurih asin osenbei, berharap dapat memakan lebih banyak strawberry. Dengan strategi unik yang demikian, bahkan petani strawberry masih mendapatkan keuntungan yang besar.
Alasan petani meraih keuntungan besar adalah karena mereka tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk memanen, mengemas, dan mendistribusikan strawberry. Dengan wisata petik strawberry ini, konsumen lah yang melakukan ketiga pekerjaan petani sekaligus.
Customer memetik dan memakan produk langsung, mengurangi biaya karyawan dan biaya pengemasan. Petani menghemat sekitar 20-30% daripada menjualnya ke pasar-pasar. Di perkebunan Yoshimura sendiri keuntungan per bulan yang diperoleh dapat mencapai hingga 1,37 juta yen atau sekitar 146 juta rupiah. Dengan biaya masuk 2.500 yen, artinya perkebunan Yoshimura hanya membutuhkan 18 pelanggan tiap harinya untuk mencapai target bulanan. Untuk menghindari kehabisan strawberry, petani biasanya membatasi jumlah maksimal pengunjung ke 50 orang di weekday dan 100 orang saat akhir pekan.
Kesulitan
Namun dibalik semua keuntungan yang didapat, petani juga harus mengatasi sulitnya menanam strawberry yang diperlukan. Menanam strawberry bukanlah hal yang mudah. Strawberry dipanen di awal pagi dengan temperatur dari rumah kaca yang harus dijaga stabil di angka 18 derajat. Musim panen strawberry hanya berlangsung selama setengah tahun, sementara setengah tahun sisanya digunakan untuk persiapan, mulai dari merawat tanaman, memupuk, hingga memastikan lahan siap agar panen berikutnya berhasil.
Pemilik kebun strawberry menjelaskan bahwa, mereka mendapatkan keuntungan dari penjualan bulanan, namun keuntungan tersebut tidak terlalu besar jika dilihat dari penjualan tahunan, dan tentunya memerlukan banyak effort.