Culture

Romansa “Kancing Kedua” : Tradisi Hari Kelulusan yang Manis dari Jepang

Di Jepang, bulan maret tidak hanya menjadi penanda mulainya musim semi, Maret adalah musim kelulusan siswa sekolah. Musim di mana air mata dan ucapan perpisahan menjadi awal di mulainya lembaran baru. Di antara banyak tradisi yang mengiringi musim kelulusan, salah satu yang paling mencolok karena keunikannya yang membawa rasa romansa dan nostalgia ialah memberikan kancing kedua (dai ni botan) dari seragam ke orang yang disukai.

Tapi mengapa harus kancing kedua? Di balik tradisi ini tersimpan Sejarah yang dalam lebih dari sekedar romansa siswa sekolah.

Alasan Kancing ke Dua Spesial

Selama beberapa dekade, siswa-siswa di Jepang telah memberikan kancing kedua dari seragam mereka ke orang yang mereka suka sebagai pernyataan cinta atau sekedar pengingat perasaan. Ada tiga alasan utama mengapa kancing ke dua yang dipilih:

1. Jarak nya ke Hati

    Kancing ke dua dari seragam memiliki letak yang paling dekat dengan hati. Memberikan kancing ke dua, merupakan simbol pemberian hati atau jiwa pemberinya ke orang yang dituju.

    2. Tingkat Kepentingan

    Mengacu dari cerita yang banyak beredar di kalangan siswa, setiap kancing dari gakuran (seragam sekolah khas jepang) memiliki maknanya. Kancing pertama adalah representasi diri sendiri, kancing kedua untuk orang yang paling penting, kancing ketiga untuk teman, dan kancing keempat untuk keluarga.

    3. Menjaga Penampilan

    Dari segi praktis, jika seorang siswa kehilangan kancing teratasnya, kerah dari seragam menjadi longgar dan terlihat tidak rapi. Kancing kedua bisa diambil tanpa merusak tampilan dari seragamnya yang dikenakan, membuat siswa dapat tetap mempertahankan harga diri dan kegagahannya saat upacara perpisahan.

    Sejarah yang Mengharukan: dari Medan Perang Hingga ke Ruang Kelas

    Meski memberikan kancing kedua kini tampak sebagai gestur cinta, akar dari tradisi ini berasal dari kisah yang memilukan yaitu Perang Dunia Kedua.

    Selama berlangsungnya perang, banyak dari pelajar-pelajar muda yang dipanggil ke garis depan pertempuran sebelum mereka sempat menyelesaikan pendidikan. Menghadapi fakta bahwa mereka mungkin tidak akan kembali, banyak dari mereka ingin meninggalkan sesuatu untuk orang-orang yang mereka cintai. Karena mereka tidak memiliki perhiasan atau hadiah mahal untuk diberikan, mereka menanggalkan kancing baju mereka “bagian dari diri” mereka, sebagai kenangan.

    Tradisi di Era Reiwa: Bagaimana Perubahannya ?

    Seiring zaman, fashion kian berubah, begitupun dengan Tradisi. Dengan banyaknya sekolah yang beranjak dari seragam Gakuran Ke Blazer, Tradisi Kancing kedua kian jarang ditemui. Meski demikian, perasaan yang diwariskan masih sama.

    Merujuk pada survey terbaru di tahun 2026 terhadap siswa menengah pertama dan siswa menengah akhir, semangat dari tradisi kancing kedua saat ini diekspresikan melalui :

    a. Bertukar Dasi atau Lencana Sekolah: untuk siswa yang mengenakan blazer, dasi telah menjadi barang wajib untuk dimiliki.

    b. Kenangan Digital : alih-alih benda fisik, banyak pasangan mengabadikan kenangan mereka lewat foto atau video untuk diunggah di media sosial.

    c. Bunga dan Ballon : Memberikan buket bunga atau balon telah menjadi cara yang populer untuk menyatakan cinta di hari kelulusan.

    Warisan yang tak lekang waktu

    Tidak peduli itu kancing logam seragam dari masa perang dunia atau foto digital di smartphone, perasaan inti dari tradisi ini tetap sama yaitu Harapan untuk selalu ada di sisi orang tercinta. Kancing kedua lebih dari sekedar kepingan logam, melainkan sebuah “warisan sejarah” yang diturunkan dari generasi ke generasi, membawa ribuan “aku mencintaimu” yang tak terucapkan.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *