
Di dalam masyarakat manapun memiliki waktu dan kesempatan khusus untuk tukar menukar kado. Di Jepang saat untuk memberikan hadiah paling banyak dilakukan adalah waktu Seibo, yang berkisar antar 10 Desember hingga akhir bulan, dan yang kedua adalah Chuugen pada pertengahan musim panas. Hadiah yang diberikan saat itu dimaksudkan untuk menunjukkan penghargaan atas kerja sama dan pertolongan yang diterima sepanjang tahun tersebut. Meskipun hadiah dari pribadi / individual kepada atasan mulai kuno, namun tidak sedikit pula perusahaan memberikan kado Seibo pada pelanggannya.
Dahulu ada kebiasaan pemberi hadiah memberikan hadiahnya secara langsung dan hal ini sampai sekarang masih dianggap pantas dilakukan sebagai cara untuk menunjukkan penghormatan kepada si penerima. Tetapi dalam kehidupan modern saat ini hal tersebut semakin sulit dilakukan bukan hanya menentukan waktu yang tepat untuk berkeliling menyebarkan hadiah tapi juga tetap dirumah menjamu orang-orang yang datang untuk memberikan hadiah. Keadaan seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang memberikan jasa layanan pribadi seperti dokter, kemudian hal tersebut menjadi kebiasaan untuk mengirimkan seibo melalui pusat-pusat pembelanjaan atau kantor pos.
Semakin mendekati musim Seibo pasangan suami istri mendiskusikan kepada siapa mereka harus memberikan seibo dan berapa banyak yang bisa mereka belanjakan. Tetapi kebanyakan istilah yang pergi berbelanja. Tentu saja adalah hal yang lain untuk mengabaikan apa hadiah yang dibeli “bagi pria atau wanita yang memiliki segalanya”, yang biasanya berakhir dengan memberikan sesuatu yang biasa atau tanpa imajinasi. Bahan makanan, khususnya minuman sejenis sake bahkan makanan pokok seperti gula dan buah-buahan kaleng, merupakan seibo yang paling popular meskipun barang-barang seperti baju merupakan hal yang biasa diberikan.
Di Jepang berkesan atau tidaknya bagi si penerima hadiah bukan hanya nilai dari hadiah itu yang dilihat tetapi juga dipengaruhi oleh gengsi dari toko asal hadiah. Oleh sebab itu, seibo diberikan dengan bungkusan yang jelas menandakan tempat pembelian hadiah. Di Eropa hal itu dianggap sebagai perbuatan yang tidak pantas bahkan hal yang kasar. Di pusat perbelanjaan besar memberikan penawaran khusus “stand hadiah” selama musim seibo, yang memajang ratusan hadiah yang telah dibungkus dan siap untuk diantarkan serta disediakan penasihat khusus untuk membantu memilih hadiah.
Bukan hal itu saja yang dilakukan, di toko retail kecil dan di toko-toko khusus memperluas penjualan barang-barang produk mereka sendiri, yang mengingatkan masyarakat akan kewajiban social untuk mereka dan bersaing untuk mendapatkan bonus akhir tahun yang sangat banyak diberikan oleh perusahaan kepada karyawan.
Pemberian hadiah di jaman Jepang modern saat ini menghabiskan banyak uang yang secara langsung memberikan hasil kepada semua pihak yang diuntungkan, jumlah hadiah yang diberikan merupakan alat ukur atas status social seseorang dan bahkan dianggap sebagai musim yang gila-gilaan. Tetapi banyak orang Jepang kurang berani untuk menolak tekanan dari iklan yang membuat mereka dipaksa memenuhi “hutang budi”, sehingga kelihatannya sangat kecil kemungkinan akan kebebasan untuk mengekspresikan sesuatu yang akan dapat mengurangi pentingnya dan keuniverselan dari ucapan terima kasih.
Catatan:
- Seibo adalah masa pemberian hadiah di Jepang yang dimulai pada tanggal 10 Desember hingga akhir bulan.
- Chuugen adalah pesta musim panas.
Sumber data: Harumi Befu