Kalau kita jalan-jalan di Jepang, akan menemui fenomena menarik. Di sudut-sudut stasiun yang bising, di dalam kereta yang penuh sesak, di taman kota saat musim semi mekar, sering kali kita temui seorang Jepang membaca. Bukan karena tugas, bukan pula karena pamer intelektualitas, tetapi karena membaca telah menjadi bagian dari napas hidup mereka. Membaca bukanlah aktivitas eksklusif, melainkan budaya kolektif yang menyatu dalam denyut kehidupan sehari-hari. Di sinilah kita melihat bukan hanya bangsa yang maju secara teknologi, tetapi juga berakar kuat dalam peradaban literasi.
Mengapa orang Jepang suka membaca? Pertanyaan ini bisa dijawab dari banyak sisi, tetapi pada dasarnya, karena mereka menghargai pengetahuan seperti mereka menghargai waktu dan keberadaan. Membaca bukan sekadar aktivitas mental, melainkan bagian dari etika dan kepribadian sosial. Dalam diam dan hening membaca, bangsa ini membangun martabatnya.
Bangsa Melek Huruf Sejak Abad ke-19
Sejarah mencatat bahwa Jepang mencapai tingkat melek huruf yang sangat tinggi sejak era Restorasi Meiji (1868–1912). Pada awal abad ke-20, Jepang telah menjadi salah satu negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia. Bahkan, jauh sebelum itu, pada zaman Edo (1603–1868), sudah terdapat sekolah rakyat bernama terakoya, tempat anak-anak petani dan pedagang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Dari situ kita tahu bahwa tradisi membaca di Jepang bukanlah sesuatu yang lahir karena modernisasi Barat, melainkan tumbuh dari kesadaran budaya yang mendalam.
Kemajuan teknologi, sistem pendidikan nasional yang merata, serta akses luas terhadap buku dan media, memperkuat budaya literasi ini. Tetapi, faktor terbesarnya tetap satu, yakni kesadaran kolektif bahwa membaca adalah jalan memperkuat karakter dan membentuk masyarakat.
Tujuan Utama adalah Membangun Kesadaran dan Harmoni
Tradisi membaca di Jepang bukan semata-mata demi pencapaian akademik atau prestise sosial. Di balik kegemaran itu ada filosofi hidup, yakni kesadaran untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Buku bukan hanya sumber informasi, tapi cermin untuk memahami diri dan dunia.
Salah satu nilai luhur yang mengalir dalam budaya Jepang adalah konsep kaizen, semangat untuk terus memperbaiki. Membaca adalah salah satu bentuk kaizen spiritual dan intelektual. Di Jepang, buku sudah dikenalkan sejak usia dini kepada anak-anak, dan orang tua sering membaca cerita sebelum tidur sebagai momen pembentukan moral dan ikatan emosional.
Lebih jauh, membaca juga menjadi alat untuk menjaga harmoni sosial. Dalam budaya yang menjunjung tinggi ketertiban dan kesopanan, membaca di tempat umum dianggap sebagai bentuk kesadaran untuk tidak mengganggu orang lain. Dalam kesunyian membaca, mereka menemukan ruang pribadi yang damai di tengah keramaian.
Refleksi untuk Bangsa Ini
Lalu kita bertanya dalam keheningan nurani:
Sudahkah kita menjadikan membaca sebagai jalan hidup?
Di negeri ini, buku masih dianggap barang mewah. Membaca belum menjadi budaya, masih sebatas kewajiban sekolah atau tuntutan pekerjaan. Perpustakaan ada, tapi sepi. Buku terbit, tapi lebih banyak dibaca oleh kalangan terbatas.
Padahal, dalam setiap halaman buku tersimpan cahaya peradaban. Negara yang rendah minat bacanya adalah negara yang mudah terombang-ambing oleh opini, propaganda, dan hoaks. Bangsa yang malas membaca adalah bangsa yang mudah terbelah, karena kehilangan kebijaksanaan yang seharusnya lahir dari pemahaman mendalam.
Kita sering mengeluh tentang pemimpin yang tidak bijak, masyarakat yang mudah tersulut emosi, dan generasi muda yang kehilangan arah. Tapi jarang kita bertanya,
“Sudahkah kita tanamkan cinta membaca sejak dini?”
Membaca bukan hanya membuka jendela dunia, tapi juga membuka jendela hati. Ia melatih kita untuk menunda penghakiman, mengasah empati, dan memperluas cakrawala berpikir. Di balik lembaran-lembaran buku yang dibaca orang Jepang setiap hari, tersimpan karakter bangsa yang sabar, tekun, dan penuh pertimbangan. Mungkin itulah yang harus kita pelajari lebih dalam: bukan hanya bagaimana mereka membaca, tetapi mengapa membaca menjadi nafas bagi jiwa bangsa mereka.
Mari Menjadi Bangsa Pembaca
Jepang tak hanya membangun pabrik dan robot, tapi juga membangun kesadaran rakyatnya melalui buku.
Di tengah gempuran visual digital dan hiburan instan, mereka tetap menjaga tradisi membaca karena mereka tahu, peradaban tak dibangun oleh kecepatan, tapi oleh kedalaman.
Jika ingin bangsa ini bangkit, mulailah dari satu hal sederhana, tanamkan cinta membaca. Ajarkan pada anak-anak bahwa buku bukan beban, tapi sahabat perjalanan.
Bacakan dongeng bukan hanya untuk meninabobokan, tapi untuk menghidupkan imajinasi.
Ciptakan ruang baca yang menyenangkan, bukan menakutkan. Dan lebih penting, jadilah contoh nyata. orang dewasa yang membaca bukan karena harus, tapi karena ingin.
Karena hanya bangsa yang membaca yang bisa benar-benar merdeka. Dan hanya jiwa yang cinta ilmu yang bisa menjadi cahaya bagi bangsa dan generasinya.
Oleh Djodjok Soepardjo (Arif Billah)