Jumlah pengikut agama budha di Jepang setelah masa perang mengalami penurunan, hingga mencapai kelompok minoritas. Tetapi karena sebagian besar orang Jepang mengikuti tradisi leluhurnya, maka tetap menjadi penganut golongan agama. Bagi sebagian besar keluarga, ritual agama tidak terlalu penting. Hingga salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Pemakaman di Jepang pada umumnya diselenggarakan sesuai dengan tata cara agama Budha, dan sangat penting untuk mengundang pendeta dari golongan tertentu untuk membacakan kitab Sutra dan doa-doa sebelum dibangunnya altar sebagai tempat penghormatan bagi si meninggal, serta mempersiapkan nama Budha setelah meninggal atau yang disebut dengan, yang nantinya akan dituliskan diatas pusara, disamping nama sebelumnya semasa hidup.
Awalnya Kaimyo ditetapkan lebih awal pada pelaksanaan pada abad ke 40 yaitu memberi nama Budha pada para penganut yang masih hidup sebagai pedoman hidupnya. Pendeta mendapat tekanan untuk bertahan di praktek jaman modern karena tradisi budha hanya memiliki sedikit doktrin yang bisa mendukungnya. Meskipun demikian, keluarga yang ditinggal mati masih tetap bersikukuh untuk mendapatkan Kaimyo dan kuil masih terus memberikannya. Keberadaan budaya ini menjadi sumber kebiasaan bahwa Kaimyo menghasilkan pendapatan yang banyak . Sebenernya Kaimyo tidak diperjualbelikan tetapi setelah mengetahui persetujuan kedua belah pihak menyetujui tentang adanya semacam kontribusi yang jumlahnya jarang sekali disebutkan. Itu semua tergantung pada kemegahan kuil dan kedudukan pemohon Kaimyo. Bagi keluarga yang ditinggalkan, Kaimyo bukanlah hal yang sepele, karena kehormatan keluarga tergantung pada kedudukan almarhum. Keluarga merasakan keharusan untuk mendapatkan kedudukan Kaimyo yang baik, sebaiknya setara dengan yang dipakai oleh leluhurnya.
Memang sangat mudah untuk mengupas budaya ini orang bisa dengan mudah menunjukkan bahwa banyak keluarga yang ditinggal mati di dunia ini yang tidak berfikir untuk menghabiskan banyak uang untuk pemakaman. Sepertinya manusia tidak dapat menahan diri untuk memberi sedikit warna yang mengagumkan pada suatu hal yang disebut kematian.
KAIMYO : Nama yang diberikan untuk penganut agama budha setelah ia meninggal dunia.